Tampilkan postingan dengan label Events. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Events. Tampilkan semua postingan

05 Mei 2009

The World Expo 2010 Shanghai


The World Expo 2010 Shanghai
Pemerintah China juga berharap, World Expo bisa memberikan kesempatan pada pertumbuhan ekonomi negaranya sebagai salah satu langkah global mengikuti kesuksesan Olimpiade Beijing tahun lalu. "Ini proyek terbesar di Shanghai dan China," kata Xu Bo, Asisten Komisaris Jenderal Pameran Expo 2010,yang rencananya akan dilangsungkan selama enam bulan berturut-turut.

Setahun menjelang dioperasikannya World Expo kemarin, sekitar 10.000 pekerja sibuk menggali tanah untuk membangun fondasi bangunan paviliun China. Di bagian lain, pekerja terlihat menuangkan semen dan pasir untuk membuat tiang-tiang beton berukuran raksasa.

Sementara pada bangunan yang diperuntukkan untuk pergelaran kesenian, pekerja sibuk mengelas besi-besi bagian eksterior dengan rancangan futuristik. Pekerja masif yang terlibat di proyek tersebut mayoritas berasal dari kawasan Sungai Huangpu. "Jumlahnya bertambah dua kali lipat dalam dua bulan terakhir," kata panitia pembangunan proyek tersebut.

Selama beberapa tahun belakangan, China menjadi salah satu negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Selain ekspansi keluar negeri, China juga gencar membangun proyek infrastruktur domestiknya. Untuk proyek World Expo yang sedang berlangsung saja,Pemerintah China mengalokasikan dana sekitar USD44 miliar.

Selain untuk membangun gedung-gedung lokasi pameran, dana sebesar itu akan digunakan untuk memperbaiki fasilitas lain seperti menambah jalur kereta api bawah tanah, perbaikan rel darat dan jalan, serta penambahan kapasitas bandara udara. "Di satu sisi saat ini merupakan waktu yang buruk karena kondisi ekonomi, tetapi di sisi lain proyek ini sangat bagus," kata Xu.

Dia menambahkan, pameran pertama yang akan digelar tahun depan akan membantu menciptakan lapangan kerja dan mendatangkan pendapatan. Pasalnya, ada sekitar 187 negara yang sudah menyatakan minatnya berpartisipasi pada ajang tersebut meski mungkin ada juga yang mengubah rencana karena terimbas krisis keuangan global. "Tapi sejauh ini tidak ada yang menarik diri," ungkapnya.

"Pemerintah juga berharap semangat Expo 2010 akan membantu menolong kepercayaan ekonomi China secara umum seperti yang terjadi pada 1993 silam saat digelar World? s Fair di Chicago sebagai upaya kebangkitan Amerika Serikat dari Great Depression," kata Xu.

Sementara itu,media setempat melaporkan, bagi negara-negara seperti Prancis, Jerman, dan Jepang yang hubungan dagangnya dengan China mencapai USD1,3 miliar, investasi pada Shanghai Expo bisa mentransformasikan keuntungan.

"Ini penting bagi warga Eropa untuk merealisasi bagaimana ide besar mereka terwujudkan," kata juru bicara paviliun Prancis Franck Serrano. Dia menambahkan, Prancis juga pernah berencana mengadopsi pameran serupa saat ekonomi global mengalami perlambatan.

Panitia penyelenggara pameran kelas dunia itu melihat, ajang tersebut memberikan kesempatan kepada penduduk China yang sebagian besar tidak pernah melakukan traveling untuk berinteraksi dengan orang-orang dari segala penjuru dunia. "Kami berbicara politik, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan kehidupan kaum urban," kata Xu.

Sambutan positif juga datang dari pekerja migran yang terlibat dalam proyek pembangunan sarana pameran itu.Yu Weixin, 40, salah seorang pekerja asal Provinsi Jiangsu, mengaku keluarganya sangat senang melihat dia berfoto dengan latar belakang bangunan yang sebagian sudah jadi.



Indonensia juga akan hadir dalam "The World Expo 2010 Shanghai" yang akan berlangsung tanggal 1 Mei-31 Oktober 2010 di Shanghai, China, dalam upaya untuk memperkenalkan sejumlah kemajuan teknologi yang selama ini telah dicapai.

"Sebagai ajang pameran dagang terbesar dunia lima tahunan, Indonesia tahun 2010 akan ikut dalam ekspo yang akan lebih menonjolkan kemajuan teknologi yang selama ini telah diraih," kata Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, kepada pers di Shanghai, Senin.

Mendag mengemukakan hal itu saat mengunjungi lokasi pameran ekspo bersama Duta Besar RI di Tiongkok, Sudrajat, Ketua Asosiasi Bisnis Indonesia Shanghai (IBAS) Adi Harsono, Atdag Beijing Imbang Listiyadi, dan Kepala Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN) Depdag Bachrul Chairi.

Menurut Mari, keikutsertaan Indonesia dalam pameran ekspor tiga tahun mendatang itu akan mempunyai arti penting dan strategis dalam upaya memperkenalkan kemajuan teknologi kepada dunia luar mengingat penyelenggaraan ekspor tersebut merupakan yang terbesar dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Rencananya, tema yang akan diangkat dalam ekspor mendatang adalah "Kota yang lebih baik dan kehidupan yang lebih baik" itu akan mengangkat bagaimana upaya masing-masing negara untuk menjadikan lingkungan menjadi ramah dan akrab serta bagaimana menunjang urbanisasi sehingga membuat masyarakat menjadi lebih baik kehidupannya.

"Pembangunan lokasi ekspor tersebut memindahkan ribuan orang namun pemerintah setempat memindahkan rakyatnya justru menjadikan yang lebih baik," kata Mendag.

Indonesia, kata Mendag, rencananya akan menonjolkan teknologi disain yang berkaitan dengan ramah lingkungan, seperti dengan tidak melakukan penebangan hutan seenaknya.

"Jadi momen itu sangat tepat bagi Indonesia untuk menonjolkan kemajuan teknologi disain yang ramah lingkungan disamping untuk mempromosikan kekayaan sumber daya alam nasional," katanya.

Menurutnya, Indonesia sebenarnya sudah mampu mengembangkan kemampuan teknologi lingkungan yang ramah lingkungan dan hemat energi, seperti dengan membangun bangunan yang tidak membutuhkan alat pendingin (AC) karena memiliki ventelasi yang sangat baik.

Selain itu juga akan menampilkan kemampuan mengolah sabut kelapa menjadi arang sehingga bisa memiliki nilai tambah bagi masyarakat.

Indonesia, tambah mendag, juga akan menonjolkan kemampuan menebang dan menggunakan kayu tanpa merusak hutan dan mampu menumbuhkan kembali melalui program Hutan Tanaman Industri (HTI), sehingga penebangannya tidak merusak hutan dan lingkungan.

Mendag berharap pemerintah daerah (pemda) bisa memanfaatkan penyelenggaraan ekspo tersebut untuk mempromosikan potensi dan kemajuan teknologi yang masing-masing telah diraih, sehingga bisa diketahui oleh dunia luar.

Komisioner Jenderal "The World Expo 2010 Shanghai" Hua Junduo, mengatakan menyambut baik rencana keikutsertaan Indonesia dalam ekspo mendatang, sehingga mampu mempromosikan kemajuan teknologi yang selama ini dikembangkan.

"Saya mengundang dan menyambut baik rencana Indonesia untuk berpartisipasi dalam ekspo mendatang dan diharapkan mampu memanfaatkan momentum ini," katanya.

Menurutnya, pihak penyelenggara mentargetkan sekitar 70 juta pengunjung dari berbagai negara di dunia akan menghadiri kegiatan tersebut dan 200 negara serta organisasi internasional akan berpartisipasi.

"Saat ini setidaknya sudah ada 149 negara dan 18 organisasi internasional yang sudah memastikan diri akan ikut dalam ekspo di Shanghai dan diharapkan jumlahnya akan bertambah sesuai target," kata Hua.
The world Shanghai Expo 2010 Mascot

12 April 2009

Woc 2009 - Manado 11 - 15 May 2009


WOC adalah pertemuan kelautan dunia yang akan dihadiri oleh sekitar 120 negara. Dalam konferensi kelautan berskala dunia ini, akan dibicarakan mengenai bagaimana laut berperan dalam mengatasi persoalan perubahan iklim. WOC memiliki beberapa target momentum khusus yang ingin dicapai.
Selain menuntaskan perencanaan CTI (Coral Triangle Initiatif), juga diharapkan mampu bersepakat terkait MOD (Manado Ocean Declaration).

CTI, atau Coral Triangle Initiative, Wilayah CT (Coral Triangle) merupakan kawasan berbentuk segitiga kaya sumber daya alam seluas 75.000 km2 melintasi enam negara atau disebut CT-6: Malaysia, Indonesia, Filipina, Kepulauan Solomon, Timor Leste, dan Papua Nugini. Kawasan ini diyakini mengandung lebih dari 600 spesies terumbu karang atau 53% dari terumbu karang dunia, 3.000 spesies ikan, yang dipagari hutan mangrove terluas di dunia; dan tempat pemijahan tuna terbesar di dunia. Diperkirakan, perputaran ekonomi kawasan ini menghasilkan keuntungan senilai US$ 2,3 miliar per tahun.
Banyak harapan bagi kemajuan daerah kita jika World Ocean Conference (WOC) 11-15 Mei 2009 terlaksana dengan baik di Manado. Setidaknya, multiplayer efect setelah hajatan internasional ratusan negara -negara yang memiliki laut bersidang bisa berdampak positif bagi perkembangan daerah kita secara keseluruhan.Demikian, sejumlah pengamat menilai setelah presiden SBY menandatangani Keputusan Presiden (Keppres) WOC..

”Dengan terbitnya Keputusan Presiden, WOC semakin memperkuat posisi daerah kita di mata nasional dan internasional. Tentunya, setelah itu, banyak manfaat bagi kemajuan Sulut. Saya yakin, setelah acara berskala internasional itu dilaksanakan, daerah kita pasti booming,”kata pengamat politik dan pemerintahan daerah Drs Paulus Sembel. Ir Jufry Suak politisi muda dan Ir James S Soleiman pengusaha muda menambahkan, terbitnya Keppres WOC ini patut disyukuri, karena perjuangan membawa Bumi Nyiur Melambai bangkit dari keterpurukan mulai nampak. Tentunya kata keduanya, harus dibarengi dengan perbaikan sejumlah infrastruktur penunjang WOC seperti jembatan Soekarno, jembatan Megawati, jalan lingkar (ring-road) Manado, jalan menuju Bandara Samratulangi berikut renovasi bandara, serta lokasi-lokasi pariwisata.

“Jangan hanya terpaku pada Bunaken, tapi semua potensi wisata harus dikembangkan seperti air berwarna di danau Linow Lahendong. Sebab di Indonesia mungkin saja hanya dua danau seperti ini, yakni danau Kalimutu dan Linow. Ini potensi yang belum dioptimalkan,”terang Suak dan Soleiman. Sekertaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Sulut Drs Robby Mamuaja dalam kesempatan terpisah menambahkan, perbaikan sejumlah infrastruktur penunjang WOC sudah harus menjadi prioritas. Apalagi terangnya, terbitnya Keppres WOC ini dengan sendirinya banyak dana pusat akan dikucurkan. Sebab, panitianya melibatkan sejumlah menteri negara dan diback -up oleh Kabinet Indonesia Bersatu.

“Selain ditunjang dana pusat, tentunya daerah juga akan menganggarkannya sebagian dalam APBD, ini termasuk kabupaten dan kota se Sulut. Jadi semua infrastruktur penunjang diperbaiki. Yang pasti kita akan tampil sebaik mungkin karena ini membawa nama baik Indonesia dan khususnya Sulut,”katanya.

Diharapkannya, ada 3 hal yang perlu dilakukan sebagai wujud supporting masyarakat dalam iven internasional ini, yakni; jagalah keamanan dan ketertiban, kemudian berilah keramah-tamahan terhadap tamu, serta perhatikan kebersihan daerah kita. Bagaimana mungkin WOC sedang digelar di Manado sementara di Motoling ada orang baku potong. Ini menjadi citra yang baruk bagi Sulut sehingga jangan harap mereka akan kembali lagi dalam kunjungan wisata,” Gubernur Sarundajang pada setiap kesempatan.

Inisiatif Pemerintah Indonesia menyelenggarakan WOC (World Ocean Conference) dan CTI (Coral Triangle Initiative) pada tanggal 11-15 Mei di Manado, Sulawesi Utara, amat terkesan melindungi kepentingan negara-negara dan lembaga donor. Persoalan pokok lautan yang menjadi muara sedimentasi dan limbah industri, ‘surga’ bagi pencurian ikan oleh kapal-kapal asing, meluasnya degradasi ekosistem pesisir akibat industrialisasi pertambakan udang dan reklamasi pantai, serta dampak perubahan iklim yang kian terasa, terpinggir oleh hasrat ekonomis sesaat. Inilah awal keraguan WOC dan CTI mampu menyelesaikan substansi persoalan kelautan dunia.

Dalam 15 tahun terakhir, setidaknya 10 negara menjadi aktor utama praktek kejahatan perikanan di perairan Indonesia. Maraknya kejahatan perikanan ini akan berdampak pada ketidakberlanjutan sumber daya ikan.
Bahkan, bisa berujung pada krisis.

Di samping itu, perairan Indonesia juga menjadi ‘ladang subur’ bagi pembuangan limbah beracun industri tambang, minyak, dan gas. Dari Freeport dan Newmont, dua korporasi tambang emas raksasa Amerika Serikat, diketahui bahwa setiap harinya dibuang 340 ribu ton tailing.
Demikian pula dengan limbah pengeboran dan pengangkutan minyak bumi ilegal. Di perairan Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta, ditemukan hampir tiap tahun tumpahan minyak mentah (tarball).

Hal penting yang patut digarisbawahi, bahwa meluasnya degradasi ekosistem pesisir diakibatkan oleh industrialisasi pertambakan udang dan reklamasi pantai. Di balik itu, peran lembaga finansial global, seperti Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia (ADB), inilah yang turut mendorong percepatan kerusakan ekosistem pesisir. Bentuk peran mereka adalah mendukung pelbagai upaya intensifikasi pertambakan pada era 1980-an.

Secara bertahap, hutan mangrove di Pulau Sulawesi dan Jawa telah dikonversi untuk pertambakan dan mengalami kerusakan teramat parah. Dari sekitar 4,2 juta hektar tambak pada tahun 1982, kini tak kurang dari 1,9 juta hektar dalam 3 tahun terakhir. Apalagi, sekitar 50% produksi udang Indonesia justru dimonopoli oleh satu korporasi trans-nasional, yakni Charoen Phokpand.


Pun demikian dengan reklamasi pantai yang dilakukan untuk membangun kawasan perniagaan dan permukiman mewah. Dari 4 proyek reklamasi pantai yang dilakukan, lebih dari 5 ribu ha ekosistem pesisir baik hutan mangrove, lamun, maupun terumbu karang terancam keberadaannya. Kini, lebih dari 10 proyek reklamasi pantai dilakukan secara masif di seluruh Indonesia. Ekosistem pesisir pun kian terancam dan teridentifikasi mengalami risiko kebencanaan.

Pada perkembangannya, sekitar 147 juta masyarakat pesisir, termasuk di antaranya 20 juta nelayan Indonesia hidup akrab dengan bencana dalam keseharian. Jutaan nelayan harus tergusur dari tempat hidupnya akibat perluasan kegiatan reklamasi dan industri, pencemaran laut, hingga proyek-proyek konservasi yang terbukti anti rakyat. Dalam hal keselamatan di laut, sepanjang Desember 2008-Maret 2009 saja, sedikitnya
43 orang meninggal dunia dan 386 orang dinyatakan hilang akibat gelombang laut yang kian sulit diperhitungkan.

Penyelenggaraan WOC, yang agenda utamanya adalah CTI dan Manado Ocean Declaration (MOD), diragukan akan mampu menjawab permasalahan di atas.
Agenda itu tak menagih tanggung jawab negara-negara dan lembaga-lembaga finansial yang terlibat dalam aktivitas memporak-porandakan laut Indonesia. Dapat dipastikan, upaya mengoptimalkan peran laut dalam menangani masalah perubahan iklim, yang menjadi tema utama WOC mustahil dapat terwujud.

Keterlibatan Amerika Serikat, Australia, Bank Pembangunan Asia (ADB), dan Bank Dunia, dalam inisiatif ini lebih cenderung bertujuan mengamankan kepentingan mereka untuk terus mencemari laut Indonesia, menguras sumber daya laut dan perikanannya, hingga meminggirkan masyarakat pesisir dan nelayan. Padahal, dana sebesar Rp44 miliar yang diambil dari APBN dan APBN Sulawesi Utara sudah digunakan untuk membiayai pelbagai persiapan jelang WOC. Di sela-sela itu, janji-janji palsu negara-negara dan lembaga donor belum terealisasi hingga kini.

Pemerintah harus menghentikan model diplomasi yang berisiko merugikan negara seperti ini. Olehnya, KIARA, WALHI, JATAM, Institut Hijau Indonesia, COMMIT, dan KAU menuntut:

Pertama, Pemerintah harus segera menyiapkan langkah-langkah diplomasi yang cerdas. Upaya ini diperlukan untuk menuntut dihentikannya praktek kejahatan perikanan di perairan Indonesia, khususnya Thailand, Filipina, Taiwan, Korea, Panama, Cina, Vietnam, Malaysia, Kamboja, dan Myanmar.
Selain itu, Indonesia juga patut menyuarakan pentingnya penerapan kebijakan anti IUU Fishing secara regional.

Kedua, semestinya, bersama negara-negara anggota CTI, Indonesia segera memulai pembicaraan dan negosiasi guna mengurangi produksi bahan tambang, sekaligus bersama-sama mendesak negara-negara asal industri tambang maupun negara-negara tujuan ekspor tambang, seperti Amerika Serikat dan Australia, agar segera mempraktekkan iktikad pertanggungjawaban untuk memulihkan kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan hidup di kawasan CT-6.

Ketiga, Pemerintah Indonesia dan negara-negara anggota CTI harus mendorong proses perundingan yang lebih adil berbasis penyelesaian akar masalah kelautan dan perubahan iklim, dengan segera keluar dari skema bisnis green washing Amerika Serikat dan Australia, dengan mendorong kedua negara tersebut untuk menurunkan emisi domestik secara signifikan sebesar 40% sebelum tahun 2020.

Keempat, Pemerintah Indonesia dan negara-negara anggota CTI harus menerapkan kebijakan domestik yang memperkuat perlindungan dan pemenuhan hak-hak nelayan tradisional dan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.

Kelima, Pemerintah diminta untuk tidak menggunakan dana utang luar negeri untuk membiayai program mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, termasuk dalam rangkaian proyek CTI.
 

RavenClaw Official Profile † | Indonesia Tourism Info